Kamis, 23 Juli 2020

dari jaman fesbuk yang bilang what's happening sampai twitter yang bilang what's on your mind, kemudian hadir youtube dengan bilang broadcast your self, gue dari dulu, sampai sekarang, masih jadi penikmat. menikmati postingan orang lain yang pos fesbuknya dikenal orang banyak yang dibuktikan dengan banyaknya like yang dia terima, tweet orang lain yang viral juga gue nikmatin juga. apalagi sekarang, youtube. situs yang paling sering nemenin gue mengisi waktu luang yang kosong, atau lebih tepatnya tidak tau apa yang ingin diekspresikan.

sedih, banyak hal yang gue ingin waktu kecil. dulu, ikut tekondo, sampe ban kuning, tapi berhenti karena gamau sakit. kalo diinget inget, gue ikut tekondo karna keren, orang yang nontonin bergumam nan berbisik pada teman-teman sebayanya "keren ya". seketika itu pula gue melihat orang2 yang tekondo itu keren, gue pengen jadi mereka. itu aja baru tekondo, belom sesuatu yang lain. waktu ada event dokcil, gue pengen banget jadi dokcil. kenapa? karena gue bisa jadi yang paling beda sama anak2 lain. pake baju putih panjang kayak dokter2 betulan. terus ikut2 lomba yang ga semua anak ikutin, bukan karna pengen menang, tapi pengen dikagumi. curang ya keliatannya, mau hasil tapi ga mau usaha. dulu itu gue. sekarang?

sekarang gue jadi mahasiswa yang milih jurusan yang paling mending daripada yang gue suka. karena yang gue suka gatau dimana, karna yang gue suka berawal menjadi yang paling ngecewain gue. mungkin gue suka akuntansi, bisa bantu nyokap, karna kalo dapet kerja gajinya lumayan kata mereka. tapi tuhan berkehendak lain. gue gadapet. yang mungkin gue suka aja mengecewakan, apalagi yang gue suka kan? sampai sekarang gue jadi bulan bulanan hidup yang memungkinkan, gada yang pasti. bersyukurlah kalian kalian yang menyukai sesuatu lalu punya rezeki untuk tetap menyukai sesuatu tersebut. gak kayak gue, mencoba kemudian tidak dihabiskan. jadi bersisa dan tidak selesai. ga dapet apa2.

rencana rencana tetap ada, gue juga udah mulai. tapi kenapa gue sulit memertahankan. gue pengen gue yang pengen sesuatu, wkwkwk ngerti ga? gue pengen menjadi orang yang pengen sesuatu dan berpegang teguh atas apa yang gue inginkan. kayak naruto, kayak luffy, kayak tokoh2 anime lain yang punya rasa keinginan yang kuat. gue pengen itu. tentunya yang membentuk gue jadi gue nanti. masih sempet gak ya? umur gue harusnya bukan jadi umur yang mikir2 kek gini kan harusnya. harusnya gue udah mikir ini dari jaman sma, jadi rasanya udah terlalu telat bagi gue buat tau. gue harus apa? coba? mulai darimana? setelah lulus ini, gue mau apa...

listnya ada, gue udah bikin, tapi dibuang. ya takdir, mau gimana, buat lagi? terus kalo udah buat lagi, apa gue akan ngerjain? kalo emang gue kerjain, apa gue bakal suka? kalo pun gue suka, apakah akan bertahan? banyak kan step2nya untuk bisa suka aja. apalagi bisa sampe sukses kayak orang2.

emang ya.. kerja keras tak hanya dua kata semata.

Minggu, 19 Juli 2020

reality show di korea emang bener - bener bisa dibilang reality show yang sebenernya. yaa walaupun gue cuman nonton salah satunya di tv channel kbs. judulnya return of superman. kalian tau sendiri lah ya yang udah nonton dari jaman triplets. gue nonton baru setahun terakhir ini karena ngeliat mereka makan wkwk. ya akhirnya jadi kecanduan nonton terus. sekarang lagi masanya william dan bentley yang sekarang udah gede. semoga sehat - sehat selalu ya mereka.

satu hal yang gue notice dari acara ini, mereka nyuguhin kepada para ayah bahwa, tidak hanya ibu yang mengurus anak, tapi ayah juga bisa. setidaknya dengan cara para ayah sendiri, yang penting tujuannya tercapai; yaitu mengurus anak. hal lain yang gue notice dari acara ini adalah bagaimana para orang tua di korea suka sekali mengonfirmasi ketika anak - anaknya berbicara. kalian ngeh gak setiap si anak ngasih tau sesuatu ke orang tuanya, orang tua mereka mengulang kembali apa yang dikatakan si anak sebagai tanda bahwa mereka telah mendengarkan. baru kemudian para orang tua akan membalas jawaban si anak.

hal ini gue pikir sangat penting untuk diketahui para orang tua untuk anak. mengonfirmasi apa yang dikatakan si anak menunjukkan bahwa "saya mendengarkanmu". hal itu bagi gue merupakan kunci bagaimana anak akan terbuka pada orang tuanya. dengan begitu, anak akan merasa dihargai, didengarkan, diperhitungkan perkataannya walaupun pembicaraannya sepele. daripada hanya menyuruh - nyuruh anak sejak dini, lebih baik mendengarkan bukan? sebelum waktunya mereka beranjak remaja dan berhenti terbuka, lebih baik mendegarkan mereka sedini mungkin bukan?

Kamis, 16 Juli 2020

kadang rasanya aneh. Orang - orang suka sekali menyamakan sesuatu. Bukan berarti gue gak ngelakuin juga ya. Misalnya kita sering dimirip - miripkan dengan tokoh terkenal atau seseorang yang pernah mereka temui. Apasih tujuannya? Mengakrabkan? Mungkin, first impression? Mungkin juga. Tapi yang penting dari hal ini sebenernya adalah, orang - orang suka sekali menyama-nyamakan.

Pernah gak sih lu bertanya - tanya, darimana asalnya orang - orang suka menyamakan sesuatu? Mungkin kita baru mengenal perilaku menyama - nyamakan dari orang tua. Seringkali pernah ketika gue masih kecil, gue sering menghadiri arisan keluarga besar ayah gue. ketika bertemu para orang tua, mereka melihat gue bagai pinang dibelah dua, alias mirip dengan ayah gue. Mungkin disitulah cikal bakal memirip - miripkan. Karena sampai yang kita sama - sama rasakan sampai pada saat ini, rasanya, memirip - miripkan seseuatu jadi keluar jalur. bisa saja kita dimiripkan seperti artis, atau tokoh kartun. perembetan yang lestari terbiasa ini kadang membuat kita menjadi merasa aneh bukan?

mungkin tidak bagi sebagian orang. gue juga gak maksa kalian untuk menjadi bersama. tapi maksud gue bilang begini karena kemudian perembetan memirip - miripkan ini bisa menjadi - jadi. bak monster yang berperawakan kecil dan lucu, jadi besar nan menakutkan. yang pada kondisi tertentu, bisa saja membuat orang lain menjadi stress atau sampai meninggal dunia. gila ya, memirip - miripkan itu.

maksud gue bukan membesar - besarkan. tapi gimana kalo emang besar? nih nih, gue kasih tau contohnya. pasti diantara kalian, atau kalian sendiri, pernah ngalamin atau denger cerita bahwa orang tua lu ingin berusaha menyamakan diri lu sama orang - orang sukses di luar sana. yaa minimal sodara kandung sendiri lah ya. nah, kalau emang kalian atau orang - orang disekitar kalian pernah ngalamin itu. pasti sekarang ngerti dong, memirip - miripkan jadi kompleks urusannya. karena bisa memengaruhi cara pandang dan respon perilaku seseorang kan?

mungkin agak terkesan tak ada hubungannya. oke oke coba kita gabungkan dua hal ini. memirip - miripkan dan menyamakan. sekarang gini, ga mungkin dong setelah kita dimirip - miripkan dengan ayah sendiri yang sukses -misalnya- oleh orang - orang, kemudian mereka ga mikir kenapa anaknya bisa gak sesukses ayahnya? pasti mereka mengharapkan anaknya bisa sesukses ayahnya dong. iya kan? nah bentuk pengharapan yang diharapkan orang - orang itu lahir dari kebiasaan orang itu dalam memirip - miripkan sesuatu.

kita bisa aja kecewa karna yang biasanya kita makan mie sedap rasa soto tapi karna kita memirip - miripkannya dengan indomi soto. Hal sesimpel gitu bisa aja bikin kecewa kan?

....
hmm rasanya ga sreg. ada yang kurang. ya beginilah kalau ada suatu pemikiran tapi ga ditulis dulu