Dalam benaknya kini ia berceloteh. Apakah ini mimpi? apa ini benar benar terjadi?
Matanya kosong menatap danau luas didepannya. Airnya yang bewarna keruh hijau sedikit demi sedikit bergerak di sentuh semilir angin. Lalu, gemersik dedaunan yang menutup langit pagi pun menyusul. Rambutnya yang sebelumnya rapih harus ditata kembali akibat desir angin yang lembut.
Ia sedang duduk dengan kursi hijau mudanya di pesisir danau. Daun daun kering kecoklatan sesekali hancur sedikit demi sedikit akibat injakan kakinya. Ia berada di pesisir danau yang dibelakangnnya terdapat rumah yang cukup tua namun kokoh. Susunan dinding dengan teknik arsitektur yang apik dikemas dengan cat bewarna krem membuat rumah tersebut terlihat sempurna ditengah hutan.
Ia yang bernama Ariel, adalah seorang pemuda berumur 19 tahun yang tinggal sendirian ditengah hutan. Hutan, dengan keasrian yang ada, yang ia tinggali ini adalah peninggalan ayahnya satu satunya. Ayahnya sudah lama meninggal sekitar setahun yang lalu. Ibunya yang kini dibebankan tidak sanggup untuk menghidupinya dan kabur meninggalkannya. Hal ini membuat anak satu satunya dalam keluarga harus menanggung hidup sendirian, dan ia memilih untuk tinggal dirumah ayahnya ditengah hutan.
Baginya, ini bukan masalah. Tinggal sendirian ditengah hutan bukan menjadi cobaan untuk Ariel. Ia malah menikmati keindahan alam yang ada. Memakan makanan segar setiap hari. Mencium udara segar setiap waktu, dan lain sebagainya yang ia tidak dapatkan di kota ia dapatkan disini.Yang jadi masalah adalah, ayah tidak bersamanya lagi. Hidupnya yang dulu ia bangun bersama ayahnya kandas dengan kematian sang ayah.
Walaupun begitu, Ariel tetap berusaha.... Semampunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar